WA 0813 9302 8419 Az-Zahra Salon Muslimah
Salon Muslimah sekarang menjadi pilihan bagi perempuan yang menginginkan
kenyamaan dan terjaganya aurat mereka. Bahkan, salon jenis ini
mengalami perkembangan yang cukup bagus.
Yuli Astuti, pendiri Moz5,
mengatakan, salonnya telah mencapai 26 cabang. Wilayahnya ada di
Sumatera dan Kalimantan. “Kami mengembangkan sistem kemitraan,” kata
dia, akhir pekan lalu.
Yuli mengawali langkah di Margonda, Depok.
Dari sini, Yuli mengembangkan salon Muslimahnya dan memperolah sambutan
hangat. Lalu, ia berani memperluas keberadaan salonnya.
Dorongan
untuk membuka salon dipicu pengalaman sendiri belasan tahun lalu.
Perempuan berhijab ini sering merasa tak nyaman saat ke salon. Terutama,
jika di dalamnya ada laki-laki.
Di salon rumahan, suami atau
saudara laki-laki pemilik sering mondar-mandir. Lewat pengalaman ini, ia
memutuskan mendirikan salon Muslimah.
Ia berpikir, jutaan
perempuan Muslim pasti mempunyai pengalaman sama dengannya. “Kesadaran
perempuan untuk menutup auratnya semakin tinggi. Itu peluang yang saya
cermati,” ujar Yuli.
Di sisi lain, mereka juga tetap ingin tampil
cantik. Ia konsisten dengan prinsip. Laki-laki sama sekali tak boleh
masuk. Sebab, mereka mengganggu kenyamanan perempuan yang sedang
perawatan.
Yuli menyatakan, ia tak hanya menerima perempuan
berhijab. Mereka yang tak berhijab dan non-Muslim boleh datang, asal
bukan laki-laki.
Namun, dengan interior, musik yang disetel,
tampilan para kapster yang semuanya berhijab, juga kondisi lainnya, tak
banyak non-Muslim yang datang.
Yuli juga tak menyuguhkan
perawatan yang dilarang dalam Islam. Misalnya, mencabut alis, sambung
rambut, sanggul, dan perawatan lain yang menurut Islam tak
diperbolehkan.
Barang-barang yang tersedia untuk perawatan terjamin halal. Yuli harus memastikan bahan tersebut halal dan tak berbahaya.
Dengan sistem keanggotaan pelanggan, terbentuklah komunitas. Mereka
melakukan kegiatan secara rutin, seperti pengajian, tutorial hijab, dan
bakti sosial. “Mereka saling mengenal dan silaturahim erat terjalin,”
kata Yuli.
Faiqoh Aliyatuhammah (24 tahun) secara berkala
melakukan perawatan ke salon sejak usianya masih belasan. Ketika empat
tahun lalu di kota kelahirannya, Jember, Jawa Timur, berdiri salon
Muslimah, ia pun mencobanya.
“Memang lebih enak sih, karyawannya langsung menyambut dengan ucapan assalamualaikum ketika kita masuk. Sejuk hati rasanya,” katanya.
Menurut
dia, beberapa perawatan salon Muslimah tak beda dengan salon biasa.
Tapi, karena ia berhijab merasa lebih nyaman di salon Muslimah.
Bahkan, ketika hendak dimulai treatment, kapster yang semuanya berhijab mengingatkan agar membaca basmalah. Selama berada di salon, jelas Faiqoh, musik-musik Islami ia nikmati.
Ketika
ia merantau ke Depok, salon Muslimah tetap menjadi tempat incarannya
sebagai referensi untuk melakukan perawatan berkala.
Ia
mengungkapkan, tak cocok dengan beberapa salon Muslimah yang pernah
dikunjunginya. Mereka tak konsisten menggunakan produk bersertifikat
halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Agustina Sari (33) juga sering melakukan perawatan di salon Muslimah. Menurut dia, keberadaan salon ini
membuatnya merasa nyaman.
Kalau di salon biasa, saat ada laki-laki lalu-lalang akan repot menutupi bagian leher ketika wajahnya di-
treatment.
Ketua Hijabers Community Jakarta Syifa Fauzia menyambut baik
menjamurnya salon Muslimah. Walaupun perempuan telah mengenakan jilbab,
kata dia, mereka tetap membutuhkan perawatan rambut.
Bahkan,
perawatan untuk rambut perempuan berhijab itu khusus karena mempunyai
karakter yang berbeda dengan rambut perempuan yang tak mengenakan hijab.
“Rambut perempuan berhijab jarang kena sinar matahari, rambut perempuan berhijab sering lepek,” ujar Syifa, Senin (6/5). Untuk merawat rambut, tak cukup hanya melakukannya di rumah, seperti keramas.
Perempuan
juga perlu melakukan perawatan lain agar rambutnya tetap sehat. Saat
melakukan perawatan tersebut, perempuan tentu harus membuka hijabnya.
Untuk
itu, diperlukan ruangan yang lebih privat. Ruangan yang tak terlihat
orang lain, terutama oleh laki-laki. “Salon Muslimah menjadi jalan
keluarnya,” ujarnya.
Ia sangat setuju dengan adanya konsep salon
Muslimah ini. Dengan tidak ada laki-laki melihat, para Muslimah akan
lebih bebas membuka auratnya jika diperlukan saat melakukan perawatan
tubuh.
Bahkan, menurutnya, ini bisa dijadikan konsep enterpreneurship yang sangat potensial karena segmennya semakin meluas.
Selain
menyasar pada perempuan berhijab yang jumlahnya semakin banyak,
perempuan yang tidak berhijab pun merasa lebih nyaman di salon Muslimah.
Syifa mengaku kagum jika ada salon yang konsisten tak mengizinkan laki-laki masuk sekalipun hanya menunggu istri atau ibunya.
Laki-laki
disiapkan tempat untuk menunggu di depan salon hingga sang perempuan
selesai melakukan perawatan di dalamnya. Sebagai saran sebaiknya ada
salon Muslimah yang mengusung one stop solution.
Selain menyediakan pelayanan perawatan lengkap dari ujung kepala hingga ujung kaki, akan lebih enak jika
menyediakan fasilitas lain, seperti butik busana Muslim atau kafe makanan halal.
Sumber : republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/05/15/mmuaqs-salon-muslimah-ini-kelebihannya-bagian1
Az Zahra Salon Muslimah di Jogja
dengan perawatan lengkap meliputi facial, creambath, hairspa, totok
aura, ear candle, perawatan mata, perawatan payudara, body massage,
lulur, menipedi, refleksi, dan berbagai paket pra nikah. WA 0813 9302 8419Untul Reservasi dan Info selengkapnya.